WISATA

Alam jateng,Jaga Ekosistem Burung

20 03 2008

Semarang, Kompas – Program konservasi berkelanjutan pada habitat-habitat alami merupakan elemen pendukung paling penting terhadap pelestarian ekosistem burung di Kota Semarang. Jika habitat alam sudah tidak lagi mendukung ekosistem, dikhawatirkan populasi burung di Semarang akan semakin berkurang bahkan punah.

Dalam dua tahun terakhir, populasi burung di Kota Semarang mulai berkurang. Mereka mungkin tidak menemukan tempat yang nyaman lagi untuk disinggahi,” ujar Ketua Komunitas Pengamat Burung Suka- suka Semarang (Kopasus) Karyadi Baskoro, di sela-sela kegiatan pengamatan burung di Hutan Wisata Tinjomoyo, Minggu (24/2).

Ia mengatakan, burung-burung pesisir jenis kuntul dan cangak dua tahun lalu amat mudah dijumpai di kawasan pesisir Jrakah. Namun, kini dari pengamatan bersama kelompoknya hanya ada beberapa jenis yang tersisa.

“Ada dua kemungkinan. Bisa populasi mereka yang bergeser, tetapi dapat pula burung-burung itu memang mati karena tidak lagi bisa beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya,” ujar Baskoro.

Menurut Baskoro, burung juga merupakan indikator kehidupan. Jika populasi burung di suatu tempat mulai berkurang, dipastikan keseimbangan ekosistem di tempat tersebut mulai terganggu.

Padahal, lanjutnya, Kota Semarang memiliki habitat-habitat alami yang potensial menjadi tempat berkembang biak bermacam jenis burung. Selain perbukitan, Semarang juga memiliki laut yang merupakan habitat alami burung-burung pesisir.

Kontur tanah yang berbukit-bukit juga menjadi wilayah yang paling menarik bagi burung-burung untuk bersinggah. Oleh karena itu, tidak jarang banyak burung migran singgah di Semarang termasuk di hutan wisata Tinjomoyo.

“Jenis burung yang setiap tahun selalu singgah di hutan wisata Tinjomoyo saat migrasi yakni elang jenis Sikep-madu Asia dari Asia Utara. Mereka datang pada Oktober. Maret nanti, burung-burung elang itu akan bermigrasi kembali ke daerah asalnya,” ujar Karyadi.

Direktur Executive Yayasan Kutilang Indonesia Ig Kristianto mengatakan, alih fungsi lahan dan perawatan hutan alam yang tidak dilakukan secara kontinu selama ini turut memicu kerusakan ekosistem hewan-hewan termasuk burung. Hutan wisata Tinjomoyo, misalnya, memiliki potensi yang dapat dimaksimalkan menjadi ekowisata pengamatan burung.

“Sekitar 40 jenis burung terdapat di Tinjomoyo. Beberapa di antaranya termasuk jenis yang sudah cukup jarang seperti kepodang,” ujar Kristianto. Di hutan Tinjomoyo masih terdapat tiga ekor burung kepodang dan empat ekor elang lokal jenis ular bidu.

Kristianto berharap, Pemkot Semarang mau lebih memerhatikan kondisi hutan alam termasuk kawasan Tinjomoyo. (A05)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: